Beritaku55 Jakarta - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI akan menggelar aksi 2 Desember menuntut penahanan terhadap tersangka kasus penistaan agama Gubernur Nonaktif Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Terkait itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta masyarakatnya tidak ikut serta aksi tersebut.
"Kalau aksi yang sifatnya di daerah malah saya buka. Silahkan saja asalkan enggak di sini (Jakarta), enggak ramai-ramai gitu," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Kepala Daerah di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Kemendagri, Jl Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (24/11/2016).
"Kita membuat satu pertemuan di sana. Membuat satu jalan kebangsaan, bagaiamana jalan sehat pruralisme," lanjutnya.
Menurut Ganjar aksi 2 Desember mendatang hanya akan membuat situasi politik, ekonomi dan sosial memanas. Dia meminta masyarakat Jawa Tengah tidak ikut andil dalam aksi itu.
"Itu efek politik, efek ekonominya kan gede, Indonesia enggak aman, investasi enggak asik. Apa kita mau mendesain Indonesia chaos? Sudah belajar lah dari 4/11 kemarin harga tiket pesawat tiba-tiba meroket hingga 400 persen, itu kan ngeri. Trus hoaxnya keluar narik duit (rush money -red). Apa seneng kita? ekonomi kita belum bagus," jelas Ganjar.
Meski demikian, politisi PDIP itu pun tidak bisa menahan jika nantinya ada masyarakat Jawa Tengah ikut serta aksi pada 2 Desember mendatang.
"Saya kira tidak, bahwa ada yang berangkat saya enggak bisa menahan. Demokrasi ini dikira nanti orde baru," ucap Ganjar.
Dalam beberapa hari sebelumnya, Ganjar menuturkan sudah melakukan dialog untuk menyejukan kondisi. Hasilnya ulama dan tokoh Jawa Tengah sepakat tidak ikut serta aksi tersebut.
"Semua sepakat menjaga ini, ndak boleh kemudian Indonesia yang sudah kokoh ini tergores retak-retak terus kemudian karena persoalan-persoalan yang mungkin tidak semua sepakat. Saya kira caranya dialog saja," pungkas Ganjar.
"Ulama, tokoh-tokoh berpidato. Akhirnya, kemarin sepakat. Ya kita hentikan," imbuh Ganjar.
Sumber:Newsdetik.com
"Kalau aksi yang sifatnya di daerah malah saya buka. Silahkan saja asalkan enggak di sini (Jakarta), enggak ramai-ramai gitu," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, usai menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Kepala Daerah di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Kemendagri, Jl Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (24/11/2016).
"Kita membuat satu pertemuan di sana. Membuat satu jalan kebangsaan, bagaiamana jalan sehat pruralisme," lanjutnya.
Menurut Ganjar aksi 2 Desember mendatang hanya akan membuat situasi politik, ekonomi dan sosial memanas. Dia meminta masyarakat Jawa Tengah tidak ikut andil dalam aksi itu.
"Itu efek politik, efek ekonominya kan gede, Indonesia enggak aman, investasi enggak asik. Apa kita mau mendesain Indonesia chaos? Sudah belajar lah dari 4/11 kemarin harga tiket pesawat tiba-tiba meroket hingga 400 persen, itu kan ngeri. Trus hoaxnya keluar narik duit (rush money -red). Apa seneng kita? ekonomi kita belum bagus," jelas Ganjar.
Meski demikian, politisi PDIP itu pun tidak bisa menahan jika nantinya ada masyarakat Jawa Tengah ikut serta aksi pada 2 Desember mendatang.
"Saya kira tidak, bahwa ada yang berangkat saya enggak bisa menahan. Demokrasi ini dikira nanti orde baru," ucap Ganjar.
Dalam beberapa hari sebelumnya, Ganjar menuturkan sudah melakukan dialog untuk menyejukan kondisi. Hasilnya ulama dan tokoh Jawa Tengah sepakat tidak ikut serta aksi tersebut.
"Semua sepakat menjaga ini, ndak boleh kemudian Indonesia yang sudah kokoh ini tergores retak-retak terus kemudian karena persoalan-persoalan yang mungkin tidak semua sepakat. Saya kira caranya dialog saja," pungkas Ganjar.
"Ulama, tokoh-tokoh berpidato. Akhirnya, kemarin sepakat. Ya kita hentikan," imbuh Ganjar.
Sumber:Newsdetik.com





Mantap gan....
ReplyDelete